Jl. Tentara Pelajar No.12, Cimanggu, Bogor 0251-8336757 hiti.sekretariat@gmail.com

Field Story

Beranda Field Story

ALUR PIKIR REKLAMASI PASCA TAMBANG

13 September 2021 - 03:01 | by Sekertariat HITI | Posted in Artikel Field Story
Oleh : Muhamad Kundarto Prinsip utama reklamasi pasca tambang adalah penyelamatan tanah pucuk (top soil). Tanah pucuk yang sudah terbentuk puluhan sampai ratusan tahun harus diselamatkan di suatu tempat. Ia nanti diambil kembali ketika lokasi rusak pasca tambang akan dilakukan penanaman kembali (revegetasi). Boleh dibilang jika tanah pucuk sudah terselamatkan, permasalahan reklamasi pasca tambang dapat dianggap selesai. Faktanya tanah pucuk tidak selalu ada. Hanya para penambang yang taat prosedur yang mau disiplin menyelamatkan hal ini. Maka langkah pertama reklamasi adalah mengadakan tanah pucuk yang siap secara fisik-kimia-biologi untuk jadi media tanam. Jika tidak ada, harus diadakan. Apapun caranya. Langkah berikutnya adalah memastikan permasalahan apa yang dihadapi. Apakah hanya masalah fisik seperti pada penambangan tanah urug atau sampai pada masalah kimia dan biologi yang biasa terjadi pada penambangan batubara dan emas. Masalah fisik dapat ditangani dengan pembuatan kontruksi teras dan urugan sedemikian rupa berada di atas muka air agar akar tanaman dapat berkembang dengan normal. Masalah kimia perlu pendekatan penambahan bahan tertentu untuk mengubah sifat kimia. Misalnya pH rendah dengan penambahan kapur pertanian. Masalah biologi perlu penciptaan suasana yang nyaman di sekitar lubang tanaman sehingga mikrobia dan makrobia mampu berkembang dengan baik. Masalah krusial yang sering muncul adalah pH yang turun terlalu rendah. Misalnya karena keberadaan air asam tambang. Mengubah keasaman dalam jumlah kecil memang mudah dengan campuran kapur yang ber-pH tinggi. Namun, permasalahan pada ratusan sampai ribuan hektar membutuhkan solusi menaikkan pH yang lebih murah dan praktis. Misalnya dengan melarutkan air yang masam itu melewati tubuh air yang dipenuhi kompos atau pupuk organik. Langkah praktis yang sering dilakukan, apabila keberadaan air asam tambang ini sulit ditangani, biasanya dengan langkah 'dimumikan', yaitu dengan penimbunan yang sangat tebal sedemikian rupa sehingga perakaran tanaman berada cukup jauh dari material asam ini. Tanaman pun dapat tumbuh normal di atasnya. Jika masalah rekayasa media tanam sudah berhasil, maka langkah berikutnya adalah menentukan vegetasi yang pas. Apakah pertimbangan yang mudah tumbuh, endemik lokal, nilai ekonomi tinggi, atau pertimbangan lainnya. Vegetasi awal sebagai perintis sering menggunakan tanaman penutup tanah (cover crop), sampai kemudian dapat berkembang dan menciptakan iklim mikro. Sehingga habibat baru hasil reklamasi ini semakin layak untuk pertumbuhan vegetasi lainnya.***
Oleh : Muhamad Kundarto
Tag : #pengembangan #penelitian #ilmutanah

0 Komentar

Berikan Komentar

Kontak Kami

Jl. Tentara Pelajar No.12, Cimanggu, Bogor

hiti.sekretariat@gmail.com

0251-8336757

Copyright © 2022 Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. All Rights Reserved.
Developed by ardhiarah