Jl. Tentara Pelajar No.12, Cimanggu, Bogor 0251-8336757 hiti.sekretariat@gmail.com

Field Story

Beranda Field Story

Tridarma Ilmu Tanah 4

08 September 2021 - 08:26 | by Sekertariat HITI | Posted in Artikel Field Story
Konseptualisasi Tridarma Ilmu Tanah Ada tiga faktor yang menyebabkan ilmu tanah sebagai ilmu dan fungsi berkembang pesat sejak kira-kira pertengahan abad ke 20 ini. Faktor pertama ialah masukan teori ilmu-ilmu dasar secara mempan seperti fisika, kimia dan matematika. Faktor kedua ialah pengakuan hakekat tanah sebagai sumberdaya alam terbarukan (renewable). Faktor ketiga adalah kemajuan yang sangat berarti dalam klasifikasi tanah dan penghimpunan informasi tentang tanah dalam bentuk peta tanah. Peranan faktor pertama sangat berarti bagi ilmu tanah sendiri, yang menyebabkan ilmu tanah memperoleh kesanggupan besar untuk menghadapi berbagai persoalan tanah atau persoalan yang berkaitan dengan tanah. Salah satu bukti tentang hal ini yang paling menonjol dewasa ini ialah penemuan kenyataan, bahwa banyak tanah tropika menghendaki asas pengelolaan yang lain daripada yang dikembangkan berdasarkan teori dan pengalaman yang diperoleh di kawasan iklim sedang. Banyak tanah tropika dirajai oleh kompleks klei bermuatan aneka (variable charge clay), yang tingkat dan tanda muatannya berubah menurut perubahan pH, sedang tanah kawasan iklim sedang dicirikan oleh kompleks klei bermuatan tetap (permanent charge clay). Dengan mengganti penggunaan asas Linnear (skala biner atau dikotomi) dengan asas numerikal (skala nominal, pencirian 'multistate', analisis 'cluster' atau analisis diskriminan ganda), klasifikasi tanah menjadi jauh lebih gayut dengan hakekat tanah sebagai sumberdaya alam. Hal ini pada gilirannya meningkatkan sekali nilai peta tanah sebagai sumber informasi. Dengan asas yang bertumpu pada matematika ini tidak saja melancarkan klasifikasi tanah (memilahkan tanah menjadi kelas-kelas), akan tetapi memudahkan pula alokasi atau identifikasi tanah (memasukkan tanah dalam kelas-kelas yang sesuai). Terlihatlah, bahwa faktor pertama berperanan pula meningkatkan peranan faktor ketiga (de Gruijter, 1977; Webster, 1979). Faktor kedua menyebabkan pengetahuan tentang tanah tidak mungkin diabaikan dalam rencana pembangunan dan pengembangan wilayah. Dengan kata lain, tanah menjadi bagian hakiki dari kebulatan kebijakan tataguna lahan. Disamping sebagai sumberdaya alam, tanah secara timbal balik menentukan nilai guna sumberdaya lahan yang lain. Faktor-faktor pemacu kemajuan ilmu tanah tersebut di atas menimbulkan sejumlah konsekuensi penting sekali atas pelaksanaan pendidikan dan pengajaran ilmu tanah di perguruan tinggi. Kurikulum ilmu tanah harus disusun dan pengajarannya harus dilaksanakan demikian rupa, sehingga:? 1. Memberikan bobot cukup banyak pada ilmu-ilmu dasar berupa fisika, kimia, biologi dan matematika; 2. Memberikan pengertian mendalam tentang tanah sebagai sumberdaya yang terbarukan dan bergatra serta berdaya guna ganda (tidak terbatas pada pertanian saja), sehingga pengajiannya pun harus bersifat serbacakup; 3. Pengajaran segala macam bidang ilmu tanah dapat dengan jelas memperlihatkan setiap sifat, kelakuan atau gejala tanah sebagai fungsi jeluk (depth function), fungsi tempat dan fungsi waktu (tanah sebagai sistem lapangan yang dinamik); 4. Klasifikasi dan pemetaan tanah menjadi simpul semua bidang ilmu tanah; 5. Membuat acuan (modelling), analisis sistem dan teknik simulasi menjadi bagian penting dari kurikulum; 6. Kerja nyata lapangan berupa latihan membuat percobaan atau latihan pemairan (survey) memperoleh jatah waktu memadai; 7. Mampu melayani kebutuhan disiplin lain akan pengetahuan tanah. Penelitian tanah, apa pun segi dan tujuannya, perlu menggunakan deret faktor tahana (state factor sequences) menurut tempat dan waktu sebagai kerangka pengajian.? Dengan kata lain, setiap hasil penelitian harus dapat didudukkan pada suatu sistem lahan tertentu yang tertakrifkan jelas (benchmark research). Hanya dengan demikian setiap penelitian tanah dapat menyumbang kepada inventarisasi sumberdaya tanah.? Maka pengamatan, pengukuran, dan percobaan lapangan menjadi sarana pokok penelitian tanah, sedang kegiatan laboratorium dan rumah kaca berfungsi sebagai sarana komplementer. Kalau penelitian terlalu dipusatkan pada laboratorium atau rumah kaca, kerumitan (complexity) persoalan yang sesungguhnya tidak dapat terungkapkan secara baik, karena permainan peluang tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, dan diperoleh gambaran yang doyong (biassed). Karena selau berurusan dengan persoalan yang mempunyai tingkat kerumitan tinggi maka pada setiap peneliti tanah dituntut kemahiran membuat acuan yang akan melancarkan analisis sistem dan proses simulasi. Sejalan dengan yang telah dikemukakan di atas, peta tanah merupakan dokumen inventarisasi sumberdaya tanah yang sangat penting. Dengan bahan ini informasi tentang keadaan atau potensi tanah di setiap tempat dapat disampaikan dengan mudah.? Sudah barang tentu bagi mereka yang belum biasa menggunakan barang informasi seperti itu diperlukan sedikit latihan membaca peta tanah. Latihan ini terutama untuk mengerti tentang hubungan antar skala peta dan kategori satuan peta dan jumlah informasi yang dikandungnya di pihak yang lain. Masih banyak perencana atau penentu kebijakan tataguna lahan yang belum memiliki pengertian ini.? Akibatnya ialah, ada yang menilai peta tanah melampaui nilai hakikinya. Terjadilah perencanaan atau penentuan kebijakan menjadi tak-jitu (inefficient). Peta tanah juga dapat dipakai sebagai bahan suapbalik (feedback) yang penting kepada penelitian tanah. Dengan peta tanah dapat diadakan pengujian (verification) hipotesis program pembentukan tanah atau peranan faktor pembentukan tanah.? Menurut pengamatan pribadi, yang mungkin saja memberikan gambaran doyong, para pakar tanah yang tidak menguasai pengertian tentang hakekat waktu dan ruang dari gejala tanah, tidak memiliki konsep serbacakup (comprehensive) yang diperlukan untuk menghadapi persoalan tanah yang bersifat luas.? Mereka cenderung terpancang pada suatu pandangan yang memperlakukan gejala tanah sebagai kenyataan yang berdiri sendiri, baik pada skala waktu maupun pada skala ruang. Pandangan seperti ini tidak berguna untuk menyelesaikan persoalan tanah yang terkandung dalam rencana pembangunan atau pengembangan wilayah. Tidak sedikit pakar tanah yang cemerlang, namun sayang kurang produktif dalam melayani masarakat luas karena mempunyai kekurangan dalam hal konseptualisasi persoalan tanah secara makro.? Dalam taraf laju pembangunan yang memerlukan percepatan, sebagaimana yang sedang dialami masarakat Indonesia, konsep makro diperlukan terlebih dulu untuk menyiapkan landasan yang sesuai bagi penerapan konsep mikro. Apabila pandangan ini dapat kita terima maka timbul konsekuensi penting berupa pembaharuan pengelolaan ilmu tanah. Yang pertama kita perlukan ialah memberikan citra baru pada disiplin tanah, yang semata-mata tidak berurusan dengan pertanian.? Ruang lingkup perhatian ilmu tanah diperluas. Kemudian kita perlu memadukan semua bidang tanah yang ada di berbagai bagian atau fakultas, sehingga menjadi satu forum ilmu tanah yang produktif dan terarah. Ilmu tanah menjadi sumber konsep dan asas penguraian masalah. Misalnya, masalah irigasi dan pengatusan (drainage) dikembalikan kepada asasnya sebagai tindakan hidromeliorasi tanah. Maka saling tindak antara tanah dan air, dan selanjutnya pengaruh hasil saling tindak ini atas pertumbuhan tanaman, menjadi konsep telaah. Pemakaian air konsumtif oleh pertanaman, neraca air lahan, dinamika lengas tanah, pengawetan lengas tanah dan transformasi kimia dan biologi dalam tubuh tanah memberikan corak utama pada pengajaran, penelitian, dan pelayanan pada masarakat di bidang irigasi dan pengatusan.? Hal ini jelas terpisahkan dari urusan konstruksi bangunannya. Pembukaan dan penyiapan lahan serta pengolahan tanah yang dikaji tanpa dasar yang mendalam tentang akibat fisika, kimia tanah, mikrobiologi tanah dan/atau pedogenesis yang dapat ditimbulkannya, menyimpang dari maksudnya atau kehilangan tujuannya.? Mekanika tanah merupakan salah satu gatra (aspek) fisika tanah dan menjadi salah satu terapan keteknikan yang penting. Agar supaya mekanika tanah tidak menjurus menjadi suatu bidang keterampilan semata-mata dan tetap menjadi suatu bidang keilmuan, masukan fisika tanah secara sinambung sangatlah perlu.? Secara ringkas dapatlah dikatakan, bahwa konseptualisasi tridarma ilmu tanah memerlukan dua hal: 1) Pembenahan asas pembinaan ilmu tanah, dan 2) Penyesuaian struktur pengelolaannya.? Dapat dicatat, bahwa di Jepang, Korea dan negara-negara Asia pada umumnya ilmu tanah berada di Fakultas? Pertanian. Pada sejumlah universitas di Amerika Serikat, ilmu tanah masuk 'Agriculture and Environmental Sciences' (Davis, U. of California) atau masuk 'Agriculture and Renewable Natural Resources' (U. of Arizona).? Jadi pada kedua perguruan tinggi tersebut terakhir, ruang gerak ilmu tanah diperluas dan tidak hanya dalam pertanian saja. Di Amerika Serikat ada suatu ketentuan, bahwa seorang pakar tanah yang minta tanda pengakuan resmi dari Soil Science Society of America wajib menunjukan tanda lulus mata ajaran fisika, biologi (termasuk botani), penyakit tanaman (mencakup gejala kahat hara), ilmu kebumian (earth sciences), statistik dan ilmu komputer.? Perlu saya tegaskan, bahwa saya berbicara ini tidak atas nama Departemen atau Jurusan Ilmu Tanah yang ada sekarang di Fakultas Pertanian. Saya berbicara atas nama Ilmu Tanah yang merupakan salah satu ilmu yang diasuh oleh Universitas Gadjah Mada. Yang saya kemukakan adalah kebijakan ilmu pengetahuan (science policy) dan pengelolaan penelitian (research management) untuk ilmu tanah. Mudah-mudahan tidak ada kaki yang terinjak dari semua yang telah saya sampaikan.*** Catatan: Dikutip dari Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Ilmu Tanah Pada Fakultas Pertanian UGM. Diucapkan di depan rapat Senat Terbuka UGM pada hari Selasa Tanggal 19 oktober 1982
Oleh : Tejoyuwono Notohadiprawiro
Tag : #pengembangan #penelitian #ilmutanah

0 Komentar

Berikan Komentar

Kontak Kami

Jl. Tentara Pelajar No.12, Cimanggu, Bogor

hiti.sekretariat@gmail.com

0251-8336757

Copyright © 2022 Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. All Rights Reserved.
Developed by ardhiarah