Jl. Tentara Pelajar No.12, Cimanggu, Bogor 0251-8336757 hiti.sekretariat@gmail.com

Tahukah Kamu

Beranda Tahukah Kamu

Tanah Pengawet Kayu

29 September 2021 - 08:36 | by Sekertariat HITI | Posted in Artikel Tahukah Kamu

Tanah menjadi pengawet alami yang luar biasa. Bukti yang mudah terlihat terdapat di tanah-tanah di wilayah Kabupaten Lebak hingga bagian selatan Kabupaten Tangerang. Tanah di wilayah Banten itu kaya dengan kayu terkersikkan alias fosil kayu. Di Banten fosil kayu itu sering disebut batu sempur. Itu merujuk pada jenis kayu yang umum ditemukan menjadi fosil di wilayah Banten. Meskipun demikian faktanya tentu terdapat jenis kayu lain. Di Kalimantan kayu fosil sering disebut juga batu ulin yang merujuk pada kerasnya fosil kayu. Di Sumatera disebut batu sungkai. Di Kabupaten Lebak, sebaran fosil kayu paling luas terdapat di wilayah bagian utara. Fosil tersebar hampir merata. Fosil kayu dijumpai berupa penggalan-penggalan kayu berukuran diameter hingga 50 cm. Namun, lebih banyak dijumpai kepingan-kepingan berukuran kurang 10 cm. Sebaran fosil kayu ini terutama biasa dijumpai sebagai hanyutan (float) di daerah aliran sungai yang melintasi batuan dari formasi ini. Sejak lebih dari 25 tahun fosil kayu dapat diambil dari sungai, sawah, atau dari bawah tanah. Material pembentuk fosil adalah silika terlarut dari hasil pelarutan batuan.

Proses terbentuknya fosil kayu dapat dijelaskan dengan sederhana seperti di bawah ini. Sekitar 5 juta tahun yang lalu wilayah ini merupakan dataran rendah lingkungan fluviatil yang ditumbuhi oleh aneka flora yang sangat padat atau berupa hutan tropis yang luas. Seiring waktu pohon-pohon besar di sana tumbuh dan mati di tengah iklim tropis. Banjir,?hujan, badai, dan petir menumbangkan lalu mengubur pohon besar tersebut seiring waktu. Di sana terdapat aktivitas vulkanik yang sangat besar dan berlangsung lama menghasilkan letusan gunung api berulang kali. Ketika terjadi letusan gunung api yang besar, maka hutan itu terkubur oleh material letusan. Terutama berupa abu dan pasir gunung api yang kemudian membentuk endapan tuf dan lapilli yang sangat kaya dengan material silika. Pada endapan tuf halus, sisa kayu yang terkubur dapat terhindar dari proses pelapukan yang cepat karena kadar oksigen rendah dan aktivitas organisme rendah. Dengan kata lain laju proses pelapukan sangat rendah. Berikutnya terjadi proses pelarutan material silika. Silika terlarut lalu mengisi pori-pori kayu. Seiring waktu pula material organik ang lapuk perlahan-lahan hilang atau tercuci menyisakan rongga-rongga yang segera digantikan silika terlarut.

Secara perlahan-lahan seluruh bagian sisa ?tumbuhan tergantikan oleh material silika. Namun demikian, tekstur kayu utuh tetap terlihat jelas. Selain silika terlarut, unsur-unsur lainnya sebagai pengotor seperti besi (Fe) dan unsur lainnya turut mengisi pori dan rongga kayu. Unsur-unsur pengotor ini menyebabkan fosil kayu berwarna-warni. Fosil berwarna putih atau tanpa berwarna bila silika terlarut tanpa pengotor atau sedikit sekali unsur lain. Silika terlarut lalu mengeras menjadi SiO2 murni. Fosil berwarna hitam, bila banyak mengandung karbon. Merah, coklat atau kuning, bila banyak mengandung oksida besi. Biru dan hijau jika mengandung tembaga.

Tingkat silisifikasi fosil kayu sangat bervariasi dari rendah, sedang hingga sangat tinggi. Itu terlihat dari penampakan fisik seperti tingkat kepadatan, kilap, dan transparansi. Karakteristik fisik itu sangat jelas terlihat jika fosil kayu dipoles: kusam, mengkilap, dan transparan. Sebagian fosil kayu dengan silisifikasi sangat tinggi mempunyai penampakan bening hampir seperti Kristal. Fosil kayu ini diyakini mempunyai genesa yang berbeda, yaitu adanya pengaruh larutan hidrotermal yang naik ke permukaaan, kemudian mengisi di ruang yang ditinggalkan oleh zat kayu.

Prinsip pembentukan fosil kayu itu banyak diikuti oleh pedagang bambu di Jasinga dan di Rumpin. Mereka merendam bambu tebangan di sungai yang mengalir atau di rawa-rawa sempit yang banyak tersebar di Bogor. Air sungai dan rawa banyak mengandung silika terlarut yang kemudian masuk ke dalam pori-pori bambu lalu terperangkap dan mengeras di dalamnya. Dampaknya bambu menjadi lebih awet dan keras. Tertarik melihat fosil kayu? Tentu Anda dapat berkunjung ke desa-desa di Kabupaten Lebak atau bagian selatan Kabupaten Tangerang. Anda juga dapat melihat fosil kayu di Museum Tanah di Bogor, Jawa Barat.*


Sumber foto: http://www.geoinside.web.id/2019/05/mengenal-fosil-kayu-dan-keberadaannya.html


Oleh :
Tag : #pengembangan #penelitian #ilmutanah

0 Komentar

Berikan Komentar

Kontak Kami

Jl. Tentara Pelajar No.12, Cimanggu, Bogor

hiti.sekretariat@gmail.com

0251-8336757

Copyright © 2022 Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. All Rights Reserved.
Developed by ardhiarah